Babak I
Sebermula adalah sebuah buku berjudul Technically Wrong: Sexist Apps, Biased Algorithms, and Other Threats of Toxic Tech karya Sara Wachter-Boettcher, perempuan kulit putih yang bermukim di Amerika Serikat. Buku ini secara detail membedah algoritma yang bias, teknologi yang melanggengkan seksisme dan diskriminasi, sekaligus mengungkap potensi ancamannya. Sara mendedah temuannya melalui pengalaman individu dari berbagai kelompok yang secara sosial dan politik, tertindas: perempuan, queer, juga kulit hitam. Ketika membaca buku ini—dan buku-buku serupa lainnya—saat Arisan Buku pada tahun 2019, kami kerap bertanya, “Kapan kita bisa punya buku seperti ini di Indonesia?”
Sempat terbersit gagasan untuk menerjemahkan buku-buku feminis tentang teknologi ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kami segera sadar bahwa para penulis buku itu, meski perempuan, tetaplah perempuan berkulit putih dengan segala privilese mereka.
Analisis mereka, meskipun memiliki benang merah, tetap lahir dari konteks yang berbeda dengan pengalaman di Indonesia.
Yang kami dambakan adalah buku yang mewakili pengalaman perempuan di Indonesia—buku yang menelisik teknologi dengan mata, tubuh, dan kehidupan kita. Imajinasi kolektif ini lah yang sejak lebih dari setengah dekade terakhir kami rawat.
Babak II
Sebermula adalah sebuah keyakinan bahwa pengalaman perempuan adalah pengetahuan itu sendiri. Namun, pengetahuan ini kerap sengaja dipinggirkan, bahkan disingkirkan secara sistematis, terutama ketika berkaitan dengan teknologi.
Dalam masyarakat patriarkis, teknologi dikonstruksi sebagai domain laki-laki. Ia dipersempit menjadi mesin, peralatan berat, atau perangkat digital dan internet. Sementara itu, alat-alat yang akrab dengan kehidupan perempuan, seperti peralatan rumah tangga, alat tenun, mesin jahit, dan perkakas berkebun, tidak diakui sebagai teknologi. Konstruksi semacam ini sejak lama menyingkirkan perempuan dari ruang teknologi, menciptakan jarak, dan menanamkan rasa asing terhadap teknologi digital yang kini menjadi pusat kehidupan manusia.
Jarak dan rasa asing ini lebih jauh menumbuhkan relasi yang tidak nyaman antara perempuan dan teknologi.
Produk-produk teknologi jarang lahir dari kepentingan perempuan, sehingga justru membuat mereka semakin rentan terhadap ancaman dan kekerasan yang difasilitasi oleh teknologi dan proses pengembangan teknologi itu sendiri. Padahal, bila kita menengok sejarah dengan jujur, perempuan telah memainkan peran penting dalam penciptaan dan pengembangan teknologi, termasuk teknologi digital dan internet.
Berderet nama perempuan, termasuk transpuan, yang meletakkan fondasi penting bagi teknologi yang kita gunakan hari ini.
Sebermula adalah sebuah keyakinan bahwa pengalaman perempuan adalah pengetahuan itu lah yang mendorong kami untuk mendisrupsi kuasa dan wacana dominan. Kami berikhtiar mengembalikan pengalaman dan pengetahuan perempuan ke posisi sentral. Suara dan kekuatan perempuan harus menjadi dasar pengambilan keputusan apa pun yang memengaruhi kehidupan manusia, terutama perempuan dan kelompok yang dipinggirkan lainnya.
Babak III
Selanjutnya adalah perjalanan menemukan dan membentuk. Dalam pergulatan panjang kerja-kerja teknologi feminis, imajinasi kami perlahan menemukan bentuknya. Buku yang kami cita-citakan harus lahir dari perempuan dengan beragam identitasnya; berangkat dari pengalaman, pun konteks mereka masing-masing.
Perjalanan berikutnya adalah menemukan perempuan-perempuan dengan keyakinan serupa, yang berjuang agar suara mereka didengar dan pengalaman mereka diakui.
Perempuan-perempuan yang ingin bertemu jalan dengan yang lain, untuk bersama-sama meruntuhkan narasi dominan tentang teknologi, lalu membangun narasi kolektif tentang teknologi yang lebih adil bagi manusia, ruang hidup, dan bumi.
Kami beruntung. Kami bertemu dengan perempuan-perempuan itu di Kemah Teknologi Feminis yang kami selenggarakan pada 2024. Dari pertemuan itu lah, proses penciptaan buku ini dimulai, perjalanan panjang memintal benang secara kolektif dengan kepedulian, seperti yang ditulis dalam pengantar Amalia Puri Handayani.
Tulisan ini merupakan bagian dari kata pengantar dari buku Meramu Awakutu: Montase Feminis Membongkar-pasang Teknologi (PurpleCode Collective, 2026). Ilustrasi dalam tulisan ini merupakan salah satu ilustrasi dalam buku yang dibuat oleh Abel Abdallah untuk bab Queer dan Ekspresi.

