Praktik sensor diri (self-censorship) dan strategi untuk merebut kembali ruang internet yang dilakukan oleh transpuan. Permasalahan pinjaman online (pinjol) yang melilit kelompok rentan. Upaya merebut kembali makna “cegil” di internet. Pembuatan teknologi yang mempertimbangkan alam oleh perempuan adat.
Sekilas, tema-tema di atas tampak tidak saling berhubungan. Namun, sebetulnya mereka semua—dan masih banyak lagi tema yang digali dalam buku ini—berusaha membedah ide yang sama: refleksi dan pemaknaan ulang teknologi yang feminis.
Setiap tulisan dalam buku ini menegaskan bahwa teknologi tidak pernah netral. Setiap data, algoritma, desain, hingga infrastruktur membawa kepentingan kelompok yang memiliki kekuasaan dan akses terbesar terhadap teknologi. Sementara, lewat penguasaan teknologi, mereka terus meminggirkan dan menindas kelompok yang lebih rentan, seperti masyarakat adat, LGBTQIA+, teman-teman dengan disabilitas, perempuan, hingga orang miskin.
Bingkai yang digunakan dalam membedah setiap tulisan tak lepas dari prinsip internet feminis, yakni akses, pergerakan, ekonomi, ekspresi, dan perwujudan dengan menggunakan konteks lokal. Keberagaman bentuk tulisan, latar belakang penulis, hingga konteks lokal yang diangkat membuat buku ini menyajikan perspektif yang beragam.
Buku ini dibuka dengan sejumlah tulisan soal LGBTQIA+ dan ekspresi, termasuk bagaimana para penulis merefleksikan upaya untuk membangun ruang di internet yang lebih aman bagi ragam ekspresi gender dan seksualitas. Rangkaian tulisan selanjutnya membahas soal apakah teknologi yang ada sudah memiliki akses inklusif. Kegagalan dalam membangun teknologi yang inklusif sama saja dengan memelihara sistem yang diskriminatif dan penuh kekerasan terhadap kelompok disabilitas dan kelompok rentan lain.
Salah seorang penulis turut menuangkan Manifesto Perempuan Tuli dalam tulisannya, “Kami, perempuan tuli, bukanlah objek dari proyek teknologi yang bisa memberi makan egomu, sistem yang patriarkis dan misoginis, juga sistem yang audist.”
Bab selanjutnya merefleksikan kaitan antara teknologi dengan tubuh dan agensi. Para penulis mengeksplorasi bagaimana tubuh sering kali direduksi sebagai data untuk kepentingan pihak kapital atau politik. Di sini, kita juga melihat bahwa upaya untuk merebut agensi atas teknologi bukanlah hal yang utopis, melainkan praktik yang dapat terus kita pelajari dan lakukan.
“Langkah terkecil yang bisa kita lakukan adalah merebut agensi atas teknologi dan mengurangi penggunaan teknologi-teknologi dari big tech companies,” tulis Della M. Kusmiran yang menulis “Relasi dengan Teknologi: Perkenalan dengan Big Tech hingga Upaya Rebut Agensi atas Teknologi”.
Kita kemudian dibawa untuk memahami keterkaitan antara teknologi dan ekonomi. Teknologi mampu menjatuhkan kelompok rentan dalam lubang utang dan mempertebal stigma terhadap perempuan. Lewat tulisan-tulisannya, para penulis turut memaparkan serangkaian refleksi dan tawaran solusi terhadap masaah yang muncul dari teknologi dan ekonomi.
Sebagai penutup, bab yang membahas keterkaitan antara teknologi dan lingkungan mengajak pembaca untuk memahami dan membayangkan praktik teknologi yang feminis. Adil terhadap kelompok rentan, adil terhadap alam.
Ada kisah dari perempuan Mentawai yang menggunakan tekno-reproduksi tradisional saat akses kesehatan dari Pemerintah gagal menjangkau wilayah mereka. Ada pula perempuan adat dari Desa Parimata dan Desa Oel’Ekam yang menciptakan, untuk kemudian menggunakan teknologi dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan mempertimbangkan keberlanjutan alam. Tulisan penutup dari buku ini pun mengimajinasikan lebih jauh dunia tanpa teknologi yang mengeksploitasi alam dan meminggirkan kelompok rentan.
“Kami menyerukan perempuan dan kelompok-kelompok yang memiliki sejarah ketertindasan untuk merebut teknologi dari tangan para penindas sehingga teknologi dapat menjadi alat pembebasan kolektif,” tulis Rafa Diantania Irfan dan Safira Azizah yang pemikirannya bisa kita lihat melalui “Imajinasi Teknologi Feminis Ekososial untuk Dunia yang Meneguhkan Kehidupan”.
Tulisan ini merupakan bagian dari kata pengantar dari buku Meramu Awakutu: Montase Feminis Membongkar-pasang Teknologi (PurpleCode Collective, 2026). Ilustrasi dalam tulisan ini merupakan salah satu ilustrasi dalam buku yang dibuat oleh Tikskii untuk bab Ekonomi.

